Kusambar handphone-ku, lagi-lagi SMS dari Mas Toto. “Ahh.., perlahan dong Mas..!” aku menahan sakit.Seperti tidak mendengar permintaanku, Mas Toto semakin kencang menekan. Bokep mama Mas Toto tidak sadar kalau tubuh yang dihimpitnya adalah tubuhku, adik iparnya, bukan Mbak Dewi istrinya. Badannya tinggi tegap. Ahh, rupanya hanya SMS saja. Sebatang daging keras memanjang sudah mendekati selangkanganku.“Jangan dulu Mas..!” sahutku lirih. Buru-buru dia melepas celana dalamku dan CD-nya. “Mas sudah ngga tahan, sayang..!” katanya. Dan alamaak, Toto di atas ranjang memang seperti yang kudambakan selama ini. Aku tidak bereaksi. Seluruh badan terasa pegal, mungkin karena permainan semalam yang tidak tuntas. Mas Toto pasti tidak melewatkan kesempatan emas ini. Dari wajahnya, terlihat mereka lemas kelelahan. Dia sedang asyik menonton liga Italy di home theatre rumahku. Seperti tidak percaya, aku mengenang kejadian beberapa menit yang lalu. Hampir aku tidak mendengar ucapannya. Kamar Mas Toto sendiri ada di lantai atas, bersebelahan dengan adikku yang bungsu.




















