Matanya mulai bersinar, perlahan ia bangkit dari dada suaminya, lalu duduk di atas tanah bertilam rumput, memutar tubuh berhadapan dengan Han Han. Han Han duduk bersandar batu hitam yang dulu sering kali dijadikan tempat duduk Koai-lojin di waktu “memancing”. Bokep mama Akan tetapi, di samping itu aku harus pergi ke Mongol dan aku harus mengabdikan diriku untuk nusa bangsaku, biarpun dengan cara lain daripada yang sudah-sudah. Aku sudah mempunyai rencana matang yang sudah berhari-hari ini kupikirkan dan baru sekarang akan kusampaikan kepadamu.”
Berdebar jantung Han Han, seolah-olah ada firasat tidak enak terasa olehnya. “Wah … Gedhe banget!” Pekik Nirahai sambil menutup mulut, agar tidak terlalu terdengar oleh si pemuda, dalam hati ia berkata, “Penis Su Ciangkun kalah dengan milik si Han Han.




















