Aku justru berdiri terpaku di situ. Bokep mom Lebih baik batal saja!” terdengar suara mbak Siti meninggi. Tetapi sepertinya harapanku barusan tak bakal terjadi karena mang Narko telah mengangkat kepalanya keluar dari wilayah selangkanganku.“He he udah basah nih, nduk.” ujarnya pada mbak Siti sambil terkekeh-kekeh. Kegagalan pertama semakin membuat mang Narko bernapsu. Pandanganku kembali ke mbak Siti. Meski demikian aku tak ambil pusing terhadap sikap protektifnya. “Hi hi hi hi Non…non..mbak teriak yaa karena keenakan!”
“Oooo..begitu..”ujarku termagu-magu. Barusan si non bilang terima kasih ke kakang” Sambung mbak Siti.Mbak Siti membelai-belai rambutku sehingga kesadaranku semakin menjauh.“Enak ya kang?” Tanya Siti kepada mang Narko. Aku terpekik dan terlonjak kaget! “Sudah ngaku saja!.Soalnya mbak bisa ngelihat bayangan si non di dekat pintu!”Duh! Kami dapat enaknya barengan. Namun ucapan mami tetap saja membuatku takut melangkah lebih jauh. Bila tengah datang masa suburku maka mang Narko tak ia perbolehkan memuncratkan pejuhnya di dalam memekku.




















