Mendekati kamar terakhir aku berharap Rianti dan ibunya ada di sana agar kami dapat melumpuhkannya, sekalian meluapkan dendamku. Bokep Jilbab/Hijab Atau mati?” ancamku. Apa Dini dibiarkan sendiri di rumah? Dini pasti merasa sakit sekali dengan perlakuan begini, memang malang nasibnya, padahal target awalku adalah Rianti, kakaknya. Dini nampak tak berkutik di cengkraman Mamat. Ku pikir hidup ini sementara, sehingga kita harus senang setiap harinya, menjalani hidup tanpa beban. ‘Tok tok tok…’ suara ketukan pintu. Dan hubungan ini tidak terasa sudah berjalan hampir dua tahun. Berantakan sekali, dari meja bekas, kulkas tak terpakai, drum, beberapa lukisan, dan entah barang apa yang ada dalam kardus penuh dengan debu, bau kotoran tikus pun menyengat, kamar ini benar-benar tak terurus. Pipinya bersentuhan dengan maskerku yang sedikit kasar dan bau ini, ku cium bibir hingga ke lehernya, hmm, harum sekali. “Syamsul ada buka tambal ban tak jauh dari sini…” kata Rianti mengenalkanku kepada ibunya.




















