Pikiranku berkecamuk soal pekerjaan yang akan kuhadapi sehari lagi dan sama sekali belum kusiapkan. Bokep mama Kepuasan yang kuperoleh mengantarkanku pada dunia mimpi. Kucoba berputar-putar di sekitar teras. “Makan aja, kalau tahu kamu baru bangun sudah kubelikan makan tadi”, katanya. Kuperlambat gerakanku untuk memperpanjang babak ini. “Kenapa nggak mikir aku saja?”, tanyanya dengan senyum genit. Aku masih cuek dengan keadaan sekelilingku tapi Iswani agak gelisah dan mengeluhkan ajakanku ke kafetaria. “Kamu sudah makan Tok? Getaran klimaksnya seakan menghanyutkan pertahananku hingga akhirnya puncak ledakanku tak dapat kutahan lagi. Seusai mandi dan mengenakan pakaian aku keluar dari kamar mandi. Tok, mmh..”. Berbaring nyaman, tubuh Iswani mulai bergoyang seirama dengan gerakanku. Kulihat waktu masih menunjukkan pukul 3 pagi lebih sedikit. ssh.. Berusaha menyembunyikan pikiranku kujawab seadanya,“Ah nggak melamun kok, cuma membayangkan rasanya dicubit hantu seperti yang Mbak tadi bilang”.




















