Aku masih di atas angkot.Perempuan paruh baya itu pun masih duduk di depanku.Masih menutupi diri dengan tabloid. Langkahku semangat lagi. Bokep mama Bibirnya sedang tidak terlalusensual. Aku duduk di belakang, tempat favorit.Jendela kubuka. Dingin.Aku kegelian menikmati tangannya yang menari di ataskulit punggung. Si Junior tibatiba juga ikutikutan ciut.Tetapi, aku harus berani. Lalu memegangpahaku, Yang mana..?Yes..! Masak tidak ada yang bisadibicarakan. Ah mengapabegitu cepat.Jarinya mengelus tiap mili pahaku. Bautubuhnya tercium. kataku.Ia berjalan menuju ruang telepon di sebelah. Kali ini dengan telapaktangan. suara itu lagi, suara wanita setengahbaya yang kali ini karena mendung tidak lagi adakeringat di lehernya. Terganggu wanita muda yang diruang sebelah yang kadangkadang tanpa tujuan jelasbolakbalik ke ruang pijat.Dari jarak yang begitu dekat ini, aku jelas melihatwajahnya. Tidak terlalu ayu. Akumembayangkan dapat menjepitnya di sini. Ya tidak apaapa,hitunghitung olahraga. Kantorku tidak lama lagi kelihatan di kelokandepan, kurang lebih 100 meter lagi.




















