Aku hampir putus asa dan berniat menitipkan dompet ke warung tadi, meski khawatir uang yang ada di dalamnya akan diambil si pemilik warung.“Yaudahlah, yang penting niatnya sudah baik…” Pikir ku dalam hati.Baru saja aku menaiki motor ku kembali, tiba-tiba pintu pagar terbuka. Rupanya Sinta sedang menyambut penisku yang berdiri di pagi hari. Bokep mama Baju mas juga basah, lebih baik masuk dulu untuk mengeringkan badan.Anggap saja untuk rasa terima kasih saya…” Pintanya memelas.Setelah ku pikir-pikir, jalan menuju rumahku masih terbilang jauh. Di sudut ruangan terdapat guci berukuran besar, dan hiasan lain yang menambah suasana mewah rumah tersebut.“Ini mas minum dulu…” Aku sedikit kaget karena ternyata Sinta sudah kembali, membawa dua gelas teh hangat dan menyodorkannya kepada ku. “Sepi sekali rumahnya, sudah pada tidur ya?” Tanyaku untuk memecah kekakuan. Kali ini aku ada di atasnya. Ada baju sepertinya muat sama kamu. Ku percepat genjotannya agar bisa cepat keluar, karena Sintapun terlihat sudah cukup lelah.




















