Setiap aku apa-ngapain, selalu ingat sama payudara mungilnya Ine dan daerah kemaluannya yang masih polos itu. Dia mulai menangis. Bokep mom “Kamu sekolah sampai kelas berapa Ne?” tanyaku. Soalnya aku tidak tega. Terus manggil dia,“Ne… kok tehnya rasanya aneh sih?”
“Masa sih Mas?” kata dia. “Ne… yang kemaren itu maaf ya… Saya ternyata khilaf, jangan bilang sama Ibu ya.”
“Iya deh Mas, tapi janji nggak kayak gitu lagi khan, abis Ine kaget dan takut”, kata dia. “Iya, tapi cepet ya. Pertama agak susah, tapi karena sudah diolesi lotion jadi agak lancar.“Sslleb… ahhh… enak sekali”, jepitan pantatnya sangat kuat. Ternyata dia hanya mendesah saja dan tetap terus tidur. Kenapa ya? “Gile banget, enaknya minta ampun…” Terus aku berfikir kalau lewat kemaluannya lebih enak apa tidak ya? apa aku fedofil? Dan dia juga sudah mulai biasa lagi. Kutahan nafas saja. Dia selalu bersikap biasa di depanku tapi akunya tidak biasa kala melihat dia.




















