“Ray, tambah tua aja lu.”
Aku tertawa dan menghisap Marlboro di jepitan bibirku dalam-dalam, tersedak saat sesuatu menutupi mataku.“Raay! Ah, Jay. Bokep mama Waktu itu… aku yang memintanya.”
“Ah?”Surabaya, Keesokan Harinya“Ray, si pemburu. Kaki-kaki Chie mulai melingkari pinggulku yang bergerak-gerak menekan. Karena Chie adalah seorang sahabat. Sepi kok!” Jay tertawa kecil. Nyaris saja kopi susu itu keluar dari mulutku dan membasahi foto copy makalah di atas meja. “Bule? “Sebelum aku menjadi milik bule. “Seandainya saja pikiran kita sudah lebih terbuka, mungkin Indonesia sudah kehabisan perawan. “Aku juga, Chie. Selamat ulang tahun..!” Jay memukul kepalaku dengan sisi organizernya. Tertawa kecil. Aku yang pantang bercinta dengan perek dan pelacur. “Aku… aku kangen Papa,” suara gadis itu terdengar gemetar. Waktu itu Jay juga sedang mengejar Chie. Seandainya hal ini benar, mungkin pelabuhanmu sudah dekat di depan mata.Sementara aku pun akan tetap tenggelam dalam tarian jemariku di atas tuts-tuts mesin tik tua kesayanganku, dan gadis-gadisku tentu saja.




















