Apalagi di saat-saat seperti ini. “Chie…” erangku tertahan, mataku terpejam. Bokep mama Hahahaha…”
Tapi Chie hanya terdiam, memeluk kedua lututnya. Chie memiliki seorang anak dan anak itu bernama depan Ray. Yang lebih suka minum es dengan murahan daripada minuman-minuman mahal yang tersedia di kafe-kafe. “Ray tahu.”
Chie menangis dalam pelukanku, membuatku sejenak mengingat ayahku sendiri yang selalu berkutat dalam pertempurannya dengan idealisme yang kumiliki. Ucapan itu sangat pahit dan mengena. Waktu itu Jay juga sedang mengejar Chie. Yang lebih suka minum es dengan murahan daripada minuman-minuman mahal yang tersedia di kafe-kafe. Kuangkat telapak tangan di mataku, menariknya ke depan sehingga pipi gadis itu menyentuh pipiku. Jay, kembarannya, dan sahabat terbaiknya.




















