Dari perut turun ke paha. Bokep mama Aku tidak berani menatap wajahnya. Aku mengikutinya. Atau kesialan, karena ia masih mengangkat tabloid menutupi wajah? Kring..!“Mbak Wien, telepon.” kataku.Ia berjalan menuju ruang telepon di sebelah. Pasti terburu-buru. Lihat saja ia sudah separuh berlutut mengarah pada Junior. Aku pun segan memulai cerita. Lagi pula percuma, tadi saja di angkot aku kalah lawan kancing. Kesempatan tidak akan datang dua kali. Aku mengurungkan niatku. Paling tidak aku dapat melihat leher yang basah keringat karena kepayahan memijat. Anggap saja tiap-tiap baju sama dengan jumlah kancing bajuku: Tujuh. Atau mau gunting? Tapi masih terhalang kain celana. Aku tidak dapat lagi memandanginya.Kantorku sudah terlewat. Tetapi berlari. Astaga. Ke bawah lagi: Tidak. Aku duduk di belakang, tempat favorit. Hari itu memang masih pagi, baru pukul 11.00 siang, belum ada yang datang, baru aku saja. Ketika Si Junior melemah ia seperti tahu bagaimana menghidupkannya, memijat tepat di bagian pangkal paha. Lihat saja ia




















