“Pilihan yang bagus,” ucapku tersenyum. Tapi akhirnya kutekan pedal gas dan melajukan mobil menuju rumahku.“Well, home sweet home,” ucapku setelah menghentikan mobil di tepi trotoar. Bokep mom “Kamu…,” ucapku. Kulit yang putih dan halus itu membuat darahku berdesir. Ia menoleh, alisnya berkerut saat memandangku. Aku melajukan mobilku dengan kecepatan enam puluh kilometer perjam. Kalau tidak kita sudahi saja.”
Kutatap ia dengan wajah berkerut. Air dingin membuatku terasa lebih segar. Akhirnya kubuka pintu mobil dan melangkah keluar. Kurasa ia sibuk memikirkan tentang semua ketidaknyamanan yang telah kutimbulkan, sementara aku sendiri mungkin terlalu malu untuk memulainya. Tak ada debaran seperti tadi. Kuangkat tubuhku ke atasnya, dengan sebelah kaki menopang di sofa, dan sebelah lagi menopang di lantai. Di depan mataku, saat ia membuka pahanya, kulihat sesuatu yang membuatku terpana sesaat. “Kamu mau mengantarku pulang sekarang?” Dua puluh menit kemudian kami sudah dalam perjalanan. “Berdiri,” ia berbisik di telingaku. Aku melajukan mobilku dengan kecepatan enam puluh kilometer




















