Ia cukup lama bermain-main di perut. Bokep mama Kuusap sisa cream. Ke bawah lagi: Tidak. Hari itu memang masih pagi, baru pukul 11.00 siang, belum ada yang datang, baru aku saja. Ia menikmati, tangannya mengocok Junior.“Besar ya..?” ujarnya.Aku makin bersemangat, makin membara, makin terbakar. Namun, tiba-tiba keberanianku hilang. Masak tidak ada yang bisa dibicarakan. Duduk di tepi dipan. Untung ada tissue yang tercecer, sehingga ada alasan buat Wien.Ia mengambil tissue itu, sambil mendengar kabar gembira dari wanita yang menunggu telepon. Aku lupa kelamaan menghitung kancing. Ia menekan-nekan agak kuat. Sesekali tangannya nakal menelusup ke bagian tepi celana dalam. Atau mau gunting? Sial. Tetapi berlari. Tapi mengelap dengan handuk hangat sisa-sisa cream pijit yang masih menempel di tubuhku. Aku tidak dapat lagi memandanginya.Kantorku sudah terlewat. Atau jangan-jangan ia juga disuruh ibunya bayar arisan. Aku tidak ingat motifnya, hanya ingat warnanya.“Mau dipijat atau mau baca,” ujarnya ramah mengambil majalah dari hadapanku, “Ayo tengkurep..!”Tangannya mulai mengoleskan




















